Sabtu, 28 Juni 2014

JEJAK KAKI ALLAH DALAM PENCIPTAAN Bagian 1



JEJAK KAKI ALLAH DALAM PENCIPTAAN
Pelajaran 1


Kisah 14:15-17: “Ia bukan tidak menyatakan dirinya dengan berbagai dengan berbagai-bagai kebajikan.
Walaupun Allah belum menyatakan diri-Nya pada indera kita, karena kita tidak dapat melihat Dia, atau mendengar-Nya, atau menjamah-Nya namun ia tidak membiarkan kita meraba-raba dalam kebingungan dan kebimbangan tanpa bukti tentang keberadaan-Nya
            Pengarang buku yang sangat terkenal “Kebahagiaan Sejati” menjelaskannya sebagai berikut:  Allah tidak pernah menyuruh kita untuk mempercayai tanpa bukti yang cukup yang menjadi dasar iman kita. Keberadaan-Nya, tabiat-Nya, kebenaran dari firman-Nya, semuanya didasarkan atas kesaksian yang menarik pada pikiran kita, dan kesaksian ini berkelimpahan. Hlm 105. Apakah bukti-bukti keberadaan Allah, dan dimana kita boleh memperolehnya?
            Dalam pelajaran ini kita akan mempelajari tiga bukti yang sangat jelas mengenai Allah, yang kita sebut “jejak kaki Allah dalam penciptaan.” Bukti-bukti ini selalu ada pada setiap orang yang mau menggunakan mata, telinga dan kuasa akal mereka.

1. JEJAK KAKI ALLAH DI BUMI
  • Ayub 12:7-10 “Tetapi bertanyalah kepada binatang, maka engkau akan diberinya pengajaran, kepada burung di udara,....bertuturlah kepada bumi,.... bahkan burung di laut akan bercerita kepadamu.
  • Mat 6:28,29 “perhatikanlah bunga bakung di ladang.”
  • Rm 1:19,20 “Sebab apa yang tidak nampak daripada-Nya,.... dapat nampak kepada pikiran dari kaya-Nya.”
            Disekitar kita, dibumi, laut dan udara, terdapat bukti-bukti yang tidak terhitung banyaknya keteraturan, keindahan, ketepatan, penyesuaian dan perencanaan yang amat baik. Perhatikanlah rencana penciptaan yang menakjubkan ini: keindahan dan semerbaknya bunga, butir-butir kepingan salju.  Sayap kupu-kupu, sarang laba-laba, bulu burung, tongkol jagung.  Naluri yang menakjubkan serta mekanisme lebah madu. Perpindahan burung-burung setiap tahun yang begitu ajaib. Sistem “radar” kelelawar yang amat peka dan cerdik.

Sekarang kita bertanya: dapakah keajaiban ciptaan ini menciptakan dirinya sendiri?

2. JEJAK KAKI ALLAH DI LANGIT
  • Mzm 19:1 “langit menceritakan kemuliaan Allah.”
  • Kej 15:5 “coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang”
  • Neh 9:6 “Engkau telah menjadikan langit, Engkau memberikan hidup kepada semuanya itu.”
  • Yes 40:26 “arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu?.”

Di langit yang tinggi di atas sana terdapat bukti-bukti dari hal pola, keteraturan, keindahan, ketepatan dan tujuan yang jelas seperti kita lihat di bumi kita ini tetapi dibesarkan sampai pada tingkat yuang mempesona. Perhatikan dan pikirkanlah keajaiban cakrawala yang penuh bintang itu: besarnya yang luar biasa, beratnya, kecepatannya, jumlahnya, jaraknya serta suhu udara pada jutaan planet dan bintang-bintang. Perhitungan yang tepat serta koordinasi timbangan, gerakan, kecepatan, suhu dan orbitnya. Keseimbangan gaya tarik dan gaya dorong. Waktu yang sangat tepat. Sinkronisasi yang sempurna. Keberaturan yang bagaikan jam. Semuanya terpelihara dalam keselarasan dengan mengikuti peraturan dan kendali secara konstan.


Sekarang, mari kita tanya lagi: bisakah keajaiban ini terjadi dengan sendirinya?

3. JEJAK  KAKI  ALLAH  DALAM  TUBUH  KITA
  • Kel 4 : 11  “Siapakah yang membuat lidah manusia?....Bukankah  Aku, yakni  Tuhan?”
  • Maz 94 : 9 “Dia yang menamakan telinga,masakan tidak mendengar?”
  • Maz 94:9 “Dia yang membentuk mata, masakan tidak memandang?”
  • Maz 139:14 “Kejadianku dashyat dan ajaib.”

            Dalam tubuh manusia terdapat juga bukti-bukti yang menakkjubkan dari pola yang luar biasa, koordinasi, adaptasi dan pikiran yang kreatif yang juga kita dapat lihat di langit dan di bumi.  Coba bayangkan keajaiban bait suci tubuh itu: sel hidup, jantung, otak, mata, telinga, tangan. Indra peraba, perasa dan penciuman. Sistem pencernaan. Keajaiban sistem reproduksi dan pertumbuhan kelenjar. Mekanisme tubuh untuk pertahanan dan penyembuhan.
            Bagaimana kita menaggapi bukti tentang rencana yang sempurna dan pemikiran atas bumi, langit dan dalam tubuh kita?  Kita tidak bole bersikap tidak mau tahu.  Benda-benda menuntut satu penjelasan yang rasional. Eksistensinya karena disain ataukah hanya kebetulan. Ciptaan Allah ataukah secara kebetulan saja? Tidak ada alasan untuk netral. Karena itu marilah kita tanya untuk ketiga kalinya :  dapatkah ciptaan yang ajaib ini menciptakan dirinya sendiri?
            Apakah anda pernah mendengar cerita mengenai sebuah jam yang pernah membuat dirinya sendiri? Ceritanya adalah sebagai berikut : setelah larut malam Joe Brown terbangun dengan suatu perasaan tidak enak bahwa sesuatu sedang terjadi dalam kamar tidurnya. Ia berbaring telentang tanpa bersuara seraya memasang kuping karena ingin tahu. Tiba-tiba ia mendengar suara ceklekan dan suara gemericik dari arah meja riasnya. Kemudian ia mengambil senternya dan menyalakan senter itu kearah suara yang aneh itu ..... lalu mata Joe terbelalak.  Apa yang kelihatannya ajaib betul-betul terjadi di atas meja rias itu! Diatas meja itu berserakan bagian-bagian jam tersebut. Tetapi anehnya bagaian-bagian jam itu tidak teletak diam. Seperti seorang aktor yang sedang berlakon, semua bagian jam itu menari sebagai benda hidup! Jam itu tertelungkup dan semua bagian yang berserakan itu masuk ke dalam jam dalam posisi yang tepat, seolah-olah dituntun oleh makhluk yang tidak kelihatan.
            Sewaktu Joe memperhatikan dengan mulut terbuka, per besar, per halus dan roda-rodanya semua melompat dan masuk kedalam jam itu, masing-masing mengambil posisi yang sempurna.  Kemudian roda penggerak, roda-roda kecil dan piringan semua mengambil tempatnya, lalu berhenti, lalu beberapa sekrup menari-nari, melompat ke dalam dan memutar semua bagian jam itu pada tempatnya.  Penutup jam itu juga menceklek sendiri.  Lalu dengan mudahnya jam itu berbalik keatas.  Muka jam itu, jarum penunjuk dan kacanya mengambil tempatnya, lalu memutar jam itu, dan jam itupun meulai berbunyi tik-tik-tik-!.................
            Apakah anda percaya pada cerita ini? Kelihatannya tidak masuk akal, bukan? Namun hal ini yang tidak mungkin seperti sebuah jam yang membuat dirinya sendiri adalah sebuah mukjizat kecil dibanding dengan mata atau telinga atau jantung atau otak atau jagat raya yang membuat dirinya sendiri.

Kesimpulan :
Dalam buku Ibrani, Rasul Paulus menyimpulkan bukti-bukti tentang keberadaan Allah sebagai berikut;
Ibrani 3:4 “sebab setiap rumah dibangun oleh seorang ahli bangunan, tetapi ahli bangunan segala sesuatu ialah Allah.” Sekarang katakanlah dengan jujur  dapatkah anda melihat ada kesalahan pada kesimpulan ini? Inilah satu-satunya penjelasan yang rasional atas keajaiban kejadian yang kita sudah pelajari dalam pasal ini.




Published: By: Herwan Oroh, S.Th - 07.13

Selasa, 19 Oktober 2010

PENGHARAPAN

(Mazmur 33, 39, 43, 71 & 146, 1 Petrus 1)

Pendahuluan: Apakah Anda merasa pengharapan Anda terpuruk? Ketika saya berusia diawal 20-an, saya percaya bahwa Amerika Serikat sedang menuju saat-saat akhir. Mengapa tidak? Bangsa-bangsa lain menaik dan menurun. Apa bedanya dengan Amerika bukan? Kemudian Ronald Reagan terpilih menjadi presiden dan sikap saya berubah sama sekali. Saya memiliki pengharapan untuk masa depan bangsa saya. Saat ini Amerika Serikat, dan dunia pada umumnya, kelihatannya sedang memasuki masa-masa sulit. Bagaimana seharusnya seorang Kristen memandang akan hal ini? Kita semua tinggal diberbagai negara, tetapi apakah pengharapan kita akan masa depan mempengaruhi masa depan negara kita? Sejujurnya, apakah Anda mau duduk di ruang bawah tanah yang gelap dan dingin dan berpegang pada pengharapan rohani Anda seorang diri saja? Mari kita selami pelajaran Alkitab dan melihat pengharapan seperti apa yang Allah tawarkan bagi pengikut-pengikutNya!

I. Pengharapan atau Pertolongan?

A. Mazmur 146:5. Kalau saya menawarkan kepada Anda pilihan pengharapan atau pertolongan, yang mana          Anda ambil?

1. Apakah keduanya berbeda?

2. Bagaimanakah ayat ini menggambarkan keduanya bekerja bersama-sama? (Bahwa pengharapan dalam Allah memberikan kita pertolongan yang sesungguhnya.)

B. Baca Mazmur 146:6. Mengapa pemazmur menuliskan semua sebutan Allah sesudah berbicara mengenai mereka yang pengharapan dan pertolongannya ada dalam Allah? (Ini membuktikan Allah dapat melakukanNya. Kalau Allah dapat menciptakan langit dan bumi, Ia dapat membereskan masalah-masalah Anda yang kecil!)

C. Baca Mazmur 146:7. Perhatikan kalimat pertama. Bagaimanakah tokoh di bagian pertama dari kalimat ini berbeda dengan bagian akhir dari kalimat ini?

(Allah memberikan keadilan dan Ia memberikan makanan!)

1. Bagaimanakah Allah melakukanNya? (Ini mungkin melibatkan bantuan Anda!)

2. Sesudah meyakinkan saya akan keadilan, sekarang saya membaca bahwa Allah membebaskan orang-orang terpenjara! Bagaimana mungkin itu keadilan? (Ini adalah orang-orang yang dipenjarakan secara tidak adil. Allah memberikan keadilan yang sesungguhnya di hadapan ketidakadilan manusia.)

D. Baca Mazmur 146:8. Apakah Anda pikir kita sedang membicarakan mereka yang benar-benar buta? (Kita tahu Yesus menyembuhkan orang buta (Matius 9:27-30), tetapi kata-kata yang mengatakan “yang tertunduk” membuat saya berpikir bahwa ayat ini juga menunjukkan kepada mereka yang bebannya sangat berat. Ini adalah individu-individu yang putus asa terhadap situasi mereka sehingga mereka tidak dapat melihat pengharapan di masa depan.)

1. Apakah artinya “melihat” ke depan?

2. Mengapa ayat itu menambahkan, yang sepertinya tidak ada hubungannya, catatan bahwa Allah mengasihi orang-orang benar? (Allah menaruh perhatian tersendiri terhadap mereka yang menurut Dia. Penurutan membantu untuk memperjelas masa depan Anda.)

E. Baca Mazmur 146:9. Apakah persamaan yang dimiliki para janda, orang-orang asing dan anak-anak yatim? (Mereka tidak berdaya di masyarakat. Allah menaruh perhatian terhadap mereka yang tidak berdaya dan Ia campur tangan dalam menolong mereka menghadapi yang jahat.)

F. Pengharapan seperti apa yang ditawarkan oleh ayat-ayat dalam Mazmur 146? (Pengharapan akan pertolongan yang sesungguhnya! Allah sanggup menolong. Ia menolong dengan keadilan dan makanan. Ia menolong dalam depressi. Ia menolong mereka yang tidak memiliki “kuasa” di dunia ini. Ia memperhatikan mereka yang menurut Dia.)

II. Berharap dan Berjaga-jaga

A. Mazmur 33:18-19. Pemerintah kelihatannya memasang lebih banyak kamera untuk merekam kegiatan warga negaranya. Apakah Anda suka pemerintah memasang “mata” terhadap Anda?

1. Kami memiliki teman yang memiliki 3 orang putra. Sang ayah adalah seorang yang cerdas, tetapi pelupa. Istrinya bercerita bagaimana ia meninggalkan suaminya di mal untuk “menjaga” bayi di kereta dorong. “Ayah” perhatiannya tertarik pada suatu hal dan ia pergi meninggalkan sang bayi sendirian di mal. Ketika “Ibu” kembali ia menemukan bayi sendirian di mal – kisah yang berulang berkali-kali! Bagaimanakah reaksi Anda terhadap Allah yang meyakinkan Anda Ia menjaga Anda? (Yang menjadi kabar baik adalah Allah tahu apa yang sedang saya jalani. Ia hadir dalam permasalahan saya dan Ia mengasihi saya.)

B. Baca Mazmur 33:20-21. Mengapa ayat ini menggunakan kata “menanti”? (Itu menunjukkan Allah tidak selalu bertindak sesuai kehendak kita.)

C. Baca Mazmur 33:22. Menurut Anda mengapa dalam konteks ayat ini pemazmur menerangkan kasih Allah “setia”? (Allah adalah penolong dan perisai kita. Kadang-kadang, kelihatannya pertolongan dan perisai tidak ada – itulah sebabnya kita menanti dan berharap. Pemazmur mengatakan kepada kita kasih Allah setia dalam meyakinkan kita bahwa pertolongan segera datang.)

III. Pengharapan Akan Reputasi Kita

A. Baca Mazmur 39:7-8. Ketika saya masih muda guru-guru saya menanamkan dalam benak saya bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa saya, tetapi saya harus menjalani penderitaan sebagai akibat dari dosa-dosa saya. Pengharapan seperti apakah yang dibicarakan dalam ayat-ayat ini? (Kita dapat berharap bahwa semua dosa-dosa kita tidak akan mempermalukan kita. Allah dalam kemurahanNya kadang-kadang melindungi kita dari akibat memalukan dosa-dosa kita.)

B. Baca Mazmur 39:10-11. Apakah Allah meniadakan akibat dari dosa? (Allah mungkin saja melindungi kita dari tertawaan orang-orang berdosa yang lain, tetapi Allah mendisiplin kita demi kebaikan kita.)

IV. Pengharapan Dalam Kekecewaan

A. Baca Mazmur 43:5. Apakah Anda mengerti apa yang dikatakan oleh pemazmur? Pernahkah Anda mengalami suatu saat dimana jiwa Anda “tertekan” dan Anda merasa tidak bahagia dan terganggu?

1. Apakah pengharapan kita dalam situasi seperti ini? (Bahwa Allah akan melepaskan kita dari kekecewaan dan kesedihan. Mungkin memuji Allah adalah awal dari jalan keluarnya. Saya tahu pujian mengangkat hati saya.)

V. Pengharapan di Lanjut Usia

A. Baca Mazmur 71:9. Bagaimanakah pengharapan berubah dihari tua

1. Bayangkan kalau Anda menjadi tanggungan orang lain untuk sebagian besar hal-hal dalam hidup Anda. Bagaimanakah itu akan mempengaruhi sikap Anda?

B. Baca Mazmur 71:10-12. Kedengarannya seperti tulisan Raja Daud (para komentator saling bertentangan dalam hal ini), dan ia mencemaskan musuh-musuh politiknya. Apakah ini kekhawatiran seorang raja tua, atau dapatkah hal yang sama dialami pekerja lanjut usia?

1. Dapatkah ini dianalogikan pada kesulitan-kesulitan lanjut usia?

2. Bahkan di lanjut usia, apakah kita memiliki pengharapan? Apakah pengharapan kita? (Pengharapan kita adalah Allah, dan kehendakNya untuk secepatnya menyelamatkan kita.)

VI. Pengharapan Dalam Keselamatan

A. Sejauh ini, kita telah mempelajari apa yang diajarkan Alkitab tentang pengharapan dalam Allah adalah hal pertolongan yang nyata, dan pasti, dalam hidup. Mari kita lihat sumber pengharapan yang lain. Baca Kolose 1:24-27. Paulus menuliskan tentang penderitaannya demi injil. Apakah tujuan dari pengharapan bagi orang yang bukan Yahudi? (Yesus. Karena Yesus kita memiliki pengharapan “mulia”.)

B. Baca Titus 1:1-3. Apakah pengharapan kita sehubungan dengan kehidupan Kristen? (Bahwa kita akan memiliki hidup kekal.)

1. Berdasarkan apakah pengharapan hidup kekal? (Sebelum penciptaan Allah berjanji untuk menawarkan manusia hidup kekal. Yesus menggenapkan janji itu.)

C. Baca 1 Petrus 1:3-5. Selain hidup kekal, pengharapan apa lagi yang kita miliki tentang surga? (Bahwa kita akan memperoleh warisan yang tidak membusuk.)

1. Sementara itu, apa yang terjadi dengan kita sekarang ini? (1 Petrus 1:5 mengatakan bahwa melalui iman kita “dipelihara dalam kekuatan Allah” sampai keselamatan kita tiba! Ditengah masalah-masalah yang kita hadapi sekarang kita memiliki pengharapan hidup kekal.)

VII. Kesucian dan Pengharapan

A. Betapa diberkati kita! Kita dapat memiliki pengharapan dalam Allah akan pertolongan saat ini dan kita memiliki pengharapan untuk hidup kekal yang mulia. Semua ini mungkin karena Yesus. Apa yang harus kita lakukan saat ini? (Baca 1 Yohanes 3:2-3. Kita “menyucikan” diri kita.)

1. Apa artinya bagi kita dengan menyucikan diri kita? Hanya Allah yang suci. (Kita perlu berusaha, dengan kuasa Roh Kudus, agar berpikir benar dan hidup benar.)

B. Sahabat, bagaimana dengan Anda? Apakah Anda mengalami permasalahan dalam hidup Anda? Disini dan saat ini Allah menawarkan kepada Anda pengharapan dan pertolongan – sesuai jadwalNya, bukan jadwal Anda. Yang lebih penting lagi, Ia menawarkan kita pengharapan akan hidup kekal. Apakah Anda hidup seperti seorang yang berpengharapan dalam Allah?
Published: By: Herwan Oroh, S.Th - 03.32

Minggu, 17 Oktober 2010

Firman Tuhan mengenai Kehidupan Keluarga

Pendahuluan:
Sudahkah saudara perhatikan betapa pentingnya “kecakapan berinteraksi” untuk mencapai kehidupan yang baik? Mudah sekali mengenali orang-orang yang kepribadiannya memancar, yang mudah berkawan dengan siapa saja. Ada yang menyebut kesanggupan berkawan dengan orang lain, kesanggupan untuk mengucapkan kalimat yang tepat ini sebagai “kecerdasan emosi” [emotional intelligence]. Ketika saya masih kecil, kakak saya banyak mengajar saya bagaimana memiliki kepribadian yang menarik dan menjadi pemimpin yang baik. Kecerdasan emosi sangat penting bagi perkawinan, sangat penting dalam membesarkan anak-anak. Alkitab tidak hanya memberi kita prinsip-prinsip dasar bagi keluarga, namun juga memiliki banyak hal yang mengajar kita tentang kecerdasan emosi keluarga. Mari kita mulai!



1. Dasar Utama


1. Baca Keluaran 20:17. Apa arti “mengingini” isteri sesamamu? (Berharap bahwa dia milik saudara. Baru-baru ini saya membaca ringkasan survai yang menyebutkan bahwa lebih separoh dari lelaki yang di-survai telah berpikir tentang melakukan hubungan seks dengan isteri orang lain.)


1. Apa perintah ini berlaku juga bagi isteri-isteri? (Ya.)


2. Apa salahnya dengan sedikit berangan-angan? Sedikit berkhayal? (Hal itu menambah rasa tidak puas dengan pasangan saudara. Memikirkan hal-hal seperti itu menuntun kepada perzinahan – yang dilarang dalam Keluaran 20:14.)


3. Apakah perintah jangan mengingini berlaku juga untuk bidang-bidang selain seks? Salahkah seorang isteri jika ingin suaminya menghasilkan lebih banyak uang, ke gereja, berbusana lebih baik, dst., persis seperti suami tetangganya? (Keluaran 20:17 mengatakan jangan mengingini “apapun yang dipunyai sesamamu.” Larangan tersebut berlaku sangat luas.)


2. Baca Keluaran 20:12. Mengapa Allah menghendaki agar anak-anak menghormati orang tua mereka? (Seperti ihwal mengingini, ini adalah soal sikap yang benar. Jika saudara menghormati orang tua saudara, saudara akan taat dan akur dengan mereka.)


3. Jika anak-anak tumbuh dengan sikap hormat pada orang tua mereka, akankah mereka juga cenderung menghormati pasangannya? (Saya pikir ada kaitannya. Dosa berawal dari dalam pikiran lewat sikap kita. Jika kita bersikap bahwa pasangan kita itu “kelas dua,” kita berada di jalan yang menuju pada perzinahan. Jika kita bersikap bahwa orang tua kita idiot, kita sudah jauh menapak di jalan yang menuju ketidakpatuhan. Memiliki sikap positif terhadap orang tua kita sebelum kita menikah menolong kita untuk memiliki sikap yang positif terhadap pasangan kita.)


1. Baca Efesus 5:28. Sikap destruktif apa yang dimaksud oleh ayat ini? (Egois. Seorang suami yang mengingini istri sesamanya itu egois. Seorang anak yang maunya melakukan kehendak sendiri bukannya mengikuti kebijakan orang tuanya itu egois. Egois ada di balik setiap dosa. Efesus menjelaskan bahwa ada cara tanpa dosa untuk mengangkat nilai diri. Cara benar untuk mengangkat nilai diri adalah dengan mengasihi istri saudara. Jika saudara benar-benar mau mengangkat nilai diri, perlakukan istri saudara sebagaimana saudara memperlakukan diri saudara. Apapun yang saudara inginkan agar istri saudara lakukan untuk saudara, lakukan hal tersebut untuknya. Jika ini masih terdengar asing baca Matius 7:12 dan Roma 13:9.)


2. Melampaui Dasar Utama


1. Di bangku kuliah kerap ada kelas “pemula” dan “lanjutan” untuk suatu mata kuliah. Sepuluh Hukum meliputi dasar utama dari hubungan keluarga. Dalam buku Amsal kita dapati beberapa bahasan lanjutan dan spesifik tentang meningkatkan kecerdasan emosi kita dalam hubungan dengan keluarga kita.


2. Cekcok keluarga: Baca Amsal 20:3 dan Amsal 29:11. Nasihat perkawinan apa yang kita dapati di sini tentang bagaimana menghindari pertikaian? (Pasangan/orangtua yang bijak berupaya menghindari percekcokan. Mengendalikan amarah menunjukkan kebijaksanaan.)


1. Baca Amsal 15:1. Dalam cara apa kata-kata dapat meredakan pertengkaran?


3. Soal uang: Baca Amsal 17:1 dan Amsal 15:16-17. Setahu saya, pertikaian soal uang adalah penyebab nomor satu perceraian. Apa kata Alkitab tentang pentingnya uang bagi kebahagiaan?


1. Berapa banyak keputusan keluarga diambil berdasarkan pertimbangan keuangan?


1. Bagaimana dengan keputusan di mana salah satu pasangan tinggal di rumah dan membesarkan anak-anak?


2. Bagaimana dengan keputusan di mana salah satu pasangan bekerja dengan waktu lebih panjang “demi keluarga?”


4. Depresi: Baca Amsal 25:20. Pendekatan apa yang paling baik saat pasangan saudara sedih?


5. Rumah tangga yang saleh: Baca Amsal 14:26. Bagaimanakah takut akan Tuhan itu menjadi perlindungan bagi anak-anak kita? (Bilamana kita mempunyai hubungan yang benar dengan Allah, kita memiliki benteng yang melindungi kita dari dunia. Benteng ini juga melindungi anak-anak kita.)


1. Dalam cara apa anak-anak kita dilindungi? (Mereka belajar tentang menaruh kepercayaan pada Allah. Ada tema yang kuat dalam Perjanjian Lama tentang Allah menunjukkan kebaikan kepada anak-anak dari orang-orang yang takut kepadaNya.)


6. Afirmasi: Baca Amsal 3:27. Ingatkah saudara akan situasi di mana saudara seharusnya mengatakan sesuatu yang positif kepada anak-anak atau pasangan saudara, tapi saudara tidak melakukannya? Apa yang ayat ini kedepankan mengenai hal tersebut?


1. Di masa kecil saya, saya memiliki seorang sobat karib yang diperlakukan dengan ganjil oleh ayahnya. Sang ayah akan mengatakan hal-hal yang tidak bernada pujian tentang anaknya, kemudian berpaling dan mengatakan hal-hal yang bernada pujian kepada saya. Untuk alasan yang tidak saya pahami, Ia menahan dari anaknya hal “baik” yang pantas diterima sang anak.


2. Saat berurusan dengan pasangan kita, apakah perbuatan lebih penting dari perkataan? (Baca Amsal 12:14. Alkitab mengedepankan bahwa perbuatan dan perkataan sama pentingnya.)


3. Baca Amsal 12:18. Seberapa pentingkah berlaku hati-hati dengan apa yang kita ucapkan kepada pasangan kita?


4. Baca Amsal 12:25 dan Amsal 16:24. Peluang apa yang ada dalam perkataan kita?


1. Efek apa yang bisa ditimbulkan oleh perkataan kita pada kesehatan pasangan kita?


7. Keceriaan: Baca Amsal 15:30. Sebagai tambahan kepada perkataan dan perbuatan, cara lain apa yang bisa menjadi berkat bagi keluarga kita? (Rupa yang ceria. Memiliki sikap positif.)


8. Meminta saran: Terkadang kita tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk mengatasi problema keluarga. Bijaksanakah bila membaca buku saran keluarga atau minta saran dari orang lain? Mari lihat beberapa ayat mengenai hal ini:


1. Baca Amsal 15:22 dan Amsal 13:10. Apa yang ayat ini kedepankan tentang orang-orang yang tidak mau menerima saran?


2. Baca Amsal 14:7 dan Amsal 12:5. Dari siapa kita harus minta saran?


3. Baca Amsal 25:12. Haruskah kita sedia dinasehati karena kita adalah sumber dari problema keluarga?


4. Baca Amsal 17:9. Peringatan apa yang kita dapati di sini dalam hal meminta saran soal problema keluarga? (Minta saran tidaklah sama dengan gembar-gembor kepada semua orang yang saudara kenal soal kesalahan pasangan (atau anak-anak) saudara. Kalimat bagus ini perlu kita simpan dalam ingatan.)


9. Bila kita lihat ada orang lain yang menghadapi problema keluarga, haruskah kita menawarkan saran walau tidak diminta? Alkitab menyebut orang sombong dan angkuh itu “pencemooh.” (Lihat Amsal 21:24). Apa yang Alkitab kedepankan tentang memberikan saran kepada orang sombong dan angkuh? (Baca Amsal 9:7-8)


10. Sobat, Alkitab memiliki petunjuk penting untuk meningkatkan kecerdasan emosimu saat berhubungan dengan dengan keluargamu. Akankan engkau memutuskan untuk mengikuti saran Allah?
Published: By: Herwan Oroh, S.Th - 20.55

 

Ads