Sudahkah saudara perhatikan betapa pentingnya “kecakapan berinteraksi” untuk mencapai kehidupan yang baik? Mudah sekali mengenali orang-orang yang kepribadiannya memancar, yang mudah berkawan dengan siapa saja. Ada yang menyebut kesanggupan berkawan dengan orang lain, kesanggupan untuk mengucapkan kalimat yang tepat ini sebagai “kecerdasan emosi” [emotional intelligence]. Ketika saya masih kecil, kakak saya banyak mengajar saya bagaimana memiliki kepribadian yang menarik dan menjadi pemimpin yang baik. Kecerdasan emosi sangat penting bagi perkawinan, sangat penting dalam membesarkan anak-anak. Alkitab tidak hanya memberi kita prinsip-prinsip dasar bagi keluarga, namun juga memiliki banyak hal yang mengajar kita tentang kecerdasan emosi keluarga. Mari kita mulai!
1. Dasar Utama
1. Baca Keluaran 20:17. Apa arti “mengingini” isteri sesamamu? (Berharap bahwa dia milik saudara. Baru-baru ini saya membaca ringkasan survai yang menyebutkan bahwa lebih separoh dari lelaki yang di-survai telah berpikir tentang melakukan hubungan seks dengan isteri orang lain.)
1. Apa perintah ini berlaku juga bagi isteri-isteri? (Ya.)
2. Apa salahnya dengan sedikit berangan-angan? Sedikit berkhayal? (Hal itu menambah rasa tidak puas dengan pasangan saudara. Memikirkan hal-hal seperti itu menuntun kepada perzinahan – yang dilarang dalam Keluaran 20:14.)
3. Apakah perintah jangan mengingini berlaku juga untuk bidang-bidang selain seks? Salahkah seorang isteri jika ingin suaminya menghasilkan lebih banyak uang, ke gereja, berbusana lebih baik, dst., persis seperti suami tetangganya? (Keluaran 20:17 mengatakan jangan mengingini “apapun yang dipunyai sesamamu.” Larangan tersebut berlaku sangat luas.)
2. Baca Keluaran 20:12. Mengapa Allah menghendaki agar anak-anak menghormati orang tua mereka? (Seperti ihwal mengingini, ini adalah soal sikap yang benar. Jika saudara menghormati orang tua saudara, saudara akan taat dan akur dengan mereka.)
3. Jika anak-anak tumbuh dengan sikap hormat pada orang tua mereka, akankah mereka juga cenderung menghormati pasangannya? (Saya pikir ada kaitannya. Dosa berawal dari dalam pikiran lewat sikap kita. Jika kita bersikap bahwa pasangan kita itu “kelas dua,” kita berada di jalan yang menuju pada perzinahan. Jika kita bersikap bahwa orang tua kita idiot, kita sudah jauh menapak di jalan yang menuju ketidakpatuhan. Memiliki sikap positif terhadap orang tua kita sebelum kita menikah menolong kita untuk memiliki sikap yang positif terhadap pasangan kita.)
1. Baca Efesus 5:28. Sikap destruktif apa yang dimaksud oleh ayat ini? (Egois. Seorang suami yang mengingini istri sesamanya itu egois. Seorang anak yang maunya melakukan kehendak sendiri bukannya mengikuti kebijakan orang tuanya itu egois. Egois ada di balik setiap dosa. Efesus menjelaskan bahwa ada cara tanpa dosa untuk mengangkat nilai diri. Cara benar untuk mengangkat nilai diri adalah dengan mengasihi istri saudara. Jika saudara benar-benar mau mengangkat nilai diri, perlakukan istri saudara sebagaimana saudara memperlakukan diri saudara. Apapun yang saudara inginkan agar istri saudara lakukan untuk saudara, lakukan hal tersebut untuknya. Jika ini masih terdengar asing baca Matius 7:12 dan Roma 13:9.)
2. Melampaui Dasar Utama
1. Di bangku kuliah kerap ada kelas “pemula” dan “lanjutan” untuk suatu mata kuliah. Sepuluh Hukum meliputi dasar utama dari hubungan keluarga. Dalam buku Amsal kita dapati beberapa bahasan lanjutan dan spesifik tentang meningkatkan kecerdasan emosi kita dalam hubungan dengan keluarga kita.
2. Cekcok keluarga: Baca Amsal 20:3 dan Amsal 29:11. Nasihat perkawinan apa yang kita dapati di sini tentang bagaimana menghindari pertikaian? (Pasangan/orangtua yang bijak berupaya menghindari percekcokan. Mengendalikan amarah menunjukkan kebijaksanaan.)
1. Baca Amsal 15:1. Dalam cara apa kata-kata dapat meredakan pertengkaran?
3. Soal uang: Baca Amsal 17:1 dan Amsal 15:16-17. Setahu saya, pertikaian soal uang adalah penyebab nomor satu perceraian. Apa kata Alkitab tentang pentingnya uang bagi kebahagiaan?
1. Berapa banyak keputusan keluarga diambil berdasarkan pertimbangan keuangan?
1. Bagaimana dengan keputusan di mana salah satu pasangan tinggal di rumah dan membesarkan anak-anak?
2. Bagaimana dengan keputusan di mana salah satu pasangan bekerja dengan waktu lebih panjang “demi keluarga?”
4. Depresi: Baca Amsal 25:20. Pendekatan apa yang paling baik saat pasangan saudara sedih?
5. Rumah tangga yang saleh: Baca Amsal 14:26. Bagaimanakah takut akan Tuhan itu menjadi perlindungan bagi anak-anak kita? (Bilamana kita mempunyai hubungan yang benar dengan Allah, kita memiliki benteng yang melindungi kita dari dunia. Benteng ini juga melindungi anak-anak kita.)
1. Dalam cara apa anak-anak kita dilindungi? (Mereka belajar tentang menaruh kepercayaan pada Allah. Ada tema yang kuat dalam Perjanjian Lama tentang Allah menunjukkan kebaikan kepada anak-anak dari orang-orang yang takut kepadaNya.)
6. Afirmasi: Baca Amsal 3:27. Ingatkah saudara akan situasi di mana saudara seharusnya mengatakan sesuatu yang positif kepada anak-anak atau pasangan saudara, tapi saudara tidak melakukannya? Apa yang ayat ini kedepankan mengenai hal tersebut?
1. Di masa kecil saya, saya memiliki seorang sobat karib yang diperlakukan dengan ganjil oleh ayahnya. Sang ayah akan mengatakan hal-hal yang tidak bernada pujian tentang anaknya, kemudian berpaling dan mengatakan hal-hal yang bernada pujian kepada saya. Untuk alasan yang tidak saya pahami, Ia menahan dari anaknya hal “baik” yang pantas diterima sang anak.
2. Saat berurusan dengan pasangan kita, apakah perbuatan lebih penting dari perkataan? (Baca Amsal 12:14. Alkitab mengedepankan bahwa perbuatan dan perkataan sama pentingnya.)
3. Baca Amsal 12:18. Seberapa pentingkah berlaku hati-hati dengan apa yang kita ucapkan kepada pasangan kita?
4. Baca Amsal 12:25 dan Amsal 16:24. Peluang apa yang ada dalam perkataan kita?
1. Efek apa yang bisa ditimbulkan oleh perkataan kita pada kesehatan pasangan kita?
7. Keceriaan: Baca Amsal 15:30. Sebagai tambahan kepada perkataan dan perbuatan, cara lain apa yang bisa menjadi berkat bagi keluarga kita? (Rupa yang ceria. Memiliki sikap positif.)
8. Meminta saran: Terkadang kita tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk mengatasi problema keluarga. Bijaksanakah bila membaca buku saran keluarga atau minta saran dari orang lain? Mari lihat beberapa ayat mengenai hal ini:
1. Baca Amsal 15:22 dan Amsal 13:10. Apa yang ayat ini kedepankan tentang orang-orang yang tidak mau menerima saran?
2. Baca Amsal 14:7 dan Amsal 12:5. Dari siapa kita harus minta saran?
3. Baca Amsal 25:12. Haruskah kita sedia dinasehati karena kita adalah sumber dari problema keluarga?
4. Baca Amsal 17:9. Peringatan apa yang kita dapati di sini dalam hal meminta saran soal problema keluarga? (Minta saran tidaklah sama dengan gembar-gembor kepada semua orang yang saudara kenal soal kesalahan pasangan (atau anak-anak) saudara. Kalimat bagus ini perlu kita simpan dalam ingatan.)
9. Bila kita lihat ada orang lain yang menghadapi problema keluarga, haruskah kita menawarkan saran walau tidak diminta? Alkitab menyebut orang sombong dan angkuh itu “pencemooh.” (Lihat Amsal 21:24). Apa yang Alkitab kedepankan tentang memberikan saran kepada orang sombong dan angkuh? (Baca Amsal 9:7-8)
10. Sobat, Alkitab memiliki petunjuk penting untuk meningkatkan kecerdasan emosimu saat berhubungan dengan dengan keluargamu. Akankan engkau memutuskan untuk mengikuti saran Allah?
About Herwan Oroh, S.Th
Hi, My Name is Hafeez. I am a webdesigner, blogspot developer and UI designer. I am a certified Themeforest top contributor and popular at JavaScript engineers. We have a team of professinal programmers, developers work together and make unique blogger templates.

0 komentar:
Posting Komentar